14 August 2010

- ♥ Seorang Muslimah Itu ♥ -

 Seorang muslimah itu ...
yang lembut fitrah tercipta,

halus kulit, manis tuturnya,
lentur hati ...
indah wajahnya,
seindah rasa membisik di jiwa,
di matanya cahaya,
dalamnya ada air,
sehangat cinta,
sejernih suka,
sedalam duka,
ceritera hidupnya ...

Seorang muslimah itu ...
hatinya penuh manja,
penuh kasih sayang semuanya,
cinta untuk diberi ...
kasih untuk dirasa ...

namun manjanya
bukan untuk semua,
bukan lemah,
atau kelemahan dunia ...
ia bisa kuat,
bisa jadi tabah,
bisa ampuh menyokong,
pahlawan-pahlawan dunia ...

begitu unik tercipta,lembutnya bukan lemah,
tabahnya tak perlu pada
jasad yang gagah ...

Seorang muslimah itu ...
teman yang setia,
buat Adam dialah Hawa,
tetap di sini ...
dari indahnya jannah,
hatta ke medan dunia,
hingga kembali mengecap nikmatNya ...

Seorang muslimah itu ...
bisa seteguh Khadijah,
yang suci hatinya,
tabah & tenang sikapnya,
teman lah-Rasul,
pengobat duka & laranya ...

Bijaksana ia,
menyimpan ílmu,
si teman bicara,
dialah Áisyah,
penyeri taman Rasulullah,
dialah Hafsah,
penyimpan mushaf pertama kalamullah ...

Seorang muslimah itu ...
bisa setabah Maryam,
meski dicaci meski dikeji,
itu hanya cerca manusia,
namun sucinya ALLah memuji ...

Seperti Fatimah kudusnya,
meniti hidup seadanya,
puteri Rasulullah ...
kesayangan ayahanda,
suaminya si panglima agama,
di belakangnya dialah pelita,
cahaya penerang segenap rumahnya,
ummi tersayang cucunda Baginda ...

Bisa dia segagah Nailah,
dengan dua tangan
tegar melindung khalifah,
meski akhirnya bermandi darah,
meski akhirnya khalifah rebah,
syahid menyahut panggilan Allah .

Seorang muslimah itu ...
perlu ada yang membela,
agar ia terdidik jiwa,
agar ia terpelihara ...

Dengan cinta Rabbnya,
dengan rindu Rasulnya ...
dengan yakin Deennya,
dengan teguh áqidahnya,
dengan utuh cinta yang terutama,
Allah dan juga RasulNya,
dalam ketaatan penuh setia .
pemelihara kesucian dirinya,
agama, keluarga & ummahnya ...

Seorang muslimah itu ...
melenturnya perlu kasih sayang,
membentuknya perlu kebijaksanaan,
kesabaran dan kemaafan,
keyakinan & penghargaan,
tanpa jemu & tanpa bosan,
memimpin tangan, menunjuk jalan ...

Seorang muslimah itu ...

yang hidup di alam ini,
gadis akhir zaman,
era hidup perlu berdikari ...
dirinya terancam dengan fitnah,
sucinya perlu tabah,
cintanya tak boleh berubah,
tak bisa terpadam oleh lelah,
dek keliru fikir jiwanya,
kerana dihambur ucapkata nista,
hanya karena dunia memperdaya ...

Karena seorang muslimah itu,
yang hidup di zaman ini ...
perlu teguh kakinya,
mantap iman mengunci jiwanya,
dari lemah & kalah,
dalam pertarungan yang lama ...
dari rebah & salah,
dalam perjalanan mengenali Tuhannya,
dalam perjuangan menggapai cinta,
nikmat hakiki seorang hamba,
dari Allah yang menciptakan,
dari Allah yang mengaruniakan,

seorang muslimah itu ...
anugerah istimewa kepada dunia!

seorang muslimah itu ...
tinggallah di dunia,
sebagai ábidah,
dah'ieyah & mujahidah,
pejuang ummah ...
anak ummi & ayah,
muslimah yang solehah ...

Kelak jadi ibu,
membentuk anak-anak ummah,
rumahnya taman ilmu,
taman budi & ma'rifatullah ...

Seorang muslimah itu ...
moga akan pulang,
dalam cinta & dalam sayang,
redha dalam keredhaan,
ALLah yang menentukan ...
seorang gadis itu dalam kebahagiaan!

Moga lah-Rahman melindungi,
merahmati dan merestui,
perjalanan seorang gadis itu ...
menuju cintaNYA yang ABADI!
Amien.....


Share:

11 August 2010

Pentingnya Khilafah Dalam Penentuan Awal Dan Akhir Ramadhan

Khalifah mempunyai hak dalam melakukan penerapan ketetapan (tabanni) hukum syariah Islam dan melegalisasikannya menjadi undang-undang yang berjalan ke atas umat dan bersifat mengikat. Penerapan ketetapan hukum ini dilakukan oleh Khalifah jika berlakunya khilafiyah (perselisihan pendapat) dalam hukum syariah hasil ijtihad beberapa mujtahid. Maka apabila Khalifah memilih dan menetapkan sesuatu pendapat, rakyat wajib mentaatinya supaya perbezaan pendapat dalam masalah tersebut tidak timbul lagi. Dalam kaedah fiqh ada menyatakan : Amru al-imam yarfa’u al-khilaf fi al-masa`il al-ijtihadiyah (Perintah Imam/Khalifah dapat menghilangkan perbezaan pendapat dalam masalah-masalah hasil ijtihad/khilafiyah). (M. Khair Haikal, Al-Jihad wa al-Qital fi as-Siyasah al-Syar’iyah, III/1797; M. Shidqi al-Burnu, Mausu’ah al-Qawa’id al-Fiqhiyah, I/268).

Namun, jika khilafiyah itu timbul dalam masalah-masalah ibadah yang lain seperti sama ada solat tarawih itu perlu 8 rakaat atau 20 rakaat, solat Subuh itu perlu dengan qunut ataupun tidak, hukum dasar dalam hal ini Khalifah tidak akan menerapkan ketetapannya. Maka di sini kaum Muslimin tidak diwajibkan untuk  solat dengan cara yang sama dengan mazhab yang Khalifah tersebut ikuti dalam hal seperti jumlah rakaat solat tarawih, atau dalam pengamalan qunut dalam solat Subuh atau sebagainya.

Terdapat dua hujah mengapa Khalifah tidak melakukan penerapan ketetapan dalam hukum ibadah yang berbentuk khilafiyah. Pertama, kerana ia tidak bersesuaian dengan realiti penerapan ketetapan hukum memandangkan penerapan ketetapan hukum tersebut hanya berlaku terhadap interaksi antara manusia dengan manusia yang lain, misalnya dalam hukum muamalah dan uqubat, bukan terhadap interaksi antara manusia dengan Allah SWT. Kedua, kerana penerapan ketetapan dalam masalah ibadah akan menimbulkan rasa sempit (haraj) di kalangan umat. (Mahmud al-Khalidi, Qawa’id Nizham al-Hukm fi al-Islam, hal. 357)

Ini bukan bererti bahawa Khalifah haram untuk menerapkan ketetapan hukum-hukum ibadah. Apa yang dimaksudkan di sini adalah lebih baik Khalifah untuk tidak menerapkan ketetapannya. Jika sekiranya Khalifah ingin menerapkan sesuatu hukum ibadah, hukumnya adalah boleh (mubah), tidak haram. Imam Nawawi berpendapat bahawa adalah boleh (mubah) hukumnya untuk Khalifah menerapkan hukum ibadah tertentu. Sepertimana yang dipetik daripada Imam Suyuthi, Imam Nawawi menyatakan bahawa,"Jika Khalifah memerintahkan umat untuk berpuasa sunat tiga hari untuk istisqa (meminta turunnya hujan), umat wajib untuk mentaati perintahnya." (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nazha`ir, hal. 527).

Sebaliknya, penerapan ketetapan hukum ibadah menjadi wajib bagi Khalifah jika ia berkaitan dengan penyatuan umat dan kesatuan negara yang wajib dijaga oleh Khalifah. Oleh itu, walaupun hukum dasarnya Khalifah tidak menerapkan ketetapan hukum ibadah, tetapi demi kesatuan umat dan kesatuan negara, Khalifah akan menerapkan beberapa hukum ibadah tertentu seperti penentuan waktu ibadah haji, penentuan awal Ramadhan, dan penentuan 'Idul Fitri dan 'Idul Adha. (Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustur, hal.21).

Oleh yang demikian, walaupun penentuan awal dan akhir Ramadhan merupakan masalah khilafiyah, Khalifah kelak akan menerapkan penetapan  hukum dalam masalah ini. Pendapat yang akan dipilih dan  yang akan diterapkan adalah pendapat yang paling kuat (rajih) yang selari dengan penyatuan umat dan kesatuan negara, iaitu pendapat jumhur ulama yang mewajibkan penggunaan rukyatul hilal (bukan hisab) yang akan dilaksanakan di seluruh dunia. Menurut ahli tafsir Wahbah Az-Zuhaili, "Pendapat jumhur inilah yang rajih menurut saya, untuk menyatukan ibadah kaum Muslimin dan mencegah perbezaan pendapat yang masih belum dapat diterima lagi di masa sekarang." (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, II/610, Ahmad bin Muhammad Siddiq al-Ghumari, Taujih al-Anzhar li Tauhid al-Muslimin fi al-Shaum wa al-Ifthar, hal.19).

Jadi apabila Khalifah melakukan rukyah kelak (melihat anak bulan), hasil rukyahnya akan dilaksanakan secara global ke atas seluruh umat Islam. Hal ini ditegaskan oleh Imam Al-Maziri ketika mensyarahkan hadis-hadis Sahih Muslim tentang rukyatul hilal. "Jika hilal telah dilihat oleh Khalifah maka seluruh negeri-negeri Islam wajib merujuk hasil rukyah tersebut…sebab rukyah Khalifah adalah berbeza dengan rukyah selain daripada Khalifah. Kerana seluruh negeri-negeri yang berada di bawah pemerintahannya dianggap sebagai satu negeri." (Imam al-Maziri, Al-Mu’allim bi Fawa`id Muslim, Tunis : Ad-Dar At-Tunisiyah, II/44-45). Wallahu a’lam.

Muhammad Siddiq al-Jawi  
Share:

Chat with me